Sabtu, 31 Januari 2015
Seberapa banyak rintangan yang membuatmu melupakanku
Aku percaya, hidupmu adalah bagian dari ceritaku
Takkan kubiarkan cerita itu berakhir dengan Air mata kesedihanmu
Aku berjanji akan menjadi sosok tokoh yang menjadi pahlwan bagimu :)
Malam itu sangatlah cerah. Seorang lelaki remaja berdiri dibalkon kamarnya yang menghadap ke bukit, dikawah bukit itu terletak danau yang menjadi saksi perkembangan dirinya sejak kecil hingga sebesar sekarang. Sejak kecil dia selalu bermain didanau itu bersama teman-temannya.
Sebenarnya sang Bunda telah menyuruhnya untuk segera tidur. Karena jam 03.00 WIB besok mereka akan terbang ke Jakarta. Dia terlihat gelisah. Entah karena tak rela meninggalkan kota asalnya dan menetap di Jakarta atau karena teringat gadis masa kecilnya yang telah 5 tahun tidak berjumpa.
Pilar M Iqbal nama lelaki itu. Dia lelaki tampan yang sangat tinggi. Senyumnya dapat menghipnotis semua wanita yang melihatnya. Ntah karena itulah dia mempunyai banyak penggemar diseluruh Indonesia.
Sudah 5 tahun sudah dia menjadi alumni ajang kontes nyanyi bergengsi di Indonesia “LA academia Junior”. Selama itu juga ia tak pernah lagi bertemu dengan gadis masa kecilnya itu. Mereka hanya bertemu di Twitter, didunia yang benar-benar membuat sebagian besar orang betah berlama-lama untuk mengekspresikan suasana hatinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Dia memasuki kamarnya kemudian mencoba untuk menutup matanya. Tetapi tetap saja mata indahnya itu tidak bisa benar-benar tertutup. Merasa sia-sia dengan usahanya. Pilar mendekati sebuah kotak yang bersusun rapi dikamarnya. Sebenarnya saat ini kamarnya sudah tidak utuh seperti kemarin. Karena sebagian barang-barang dirumah pilar sudah dikirim ke Jakarta tadi pagi. Ia mengambil sebuah album foto didalam kotak itu. Satu-persatu foto itu dia perhatikan. Foto dirinya bersama teman-teman alumni LACA Akademia Junior, foto dirinya bersama gadis kecilnya yang membuatnya tersenyum kecil, dan terakhir foto dirinya bersama para Penggemarnya,SPIN. Terasa bergetar dadanya ketika melihat foto dirinya bersama penggemarnya itu. Penggemar yang dulu sangat mengaguminya, yang sangat antusias ketika ia muncul diberanda Twitter. Tapi kini, semua berubah. Tak seantusias dulu. Walaupun ada yang antusias itupun hanya numpang lewat di mentionnya dan minta follback sebagai balasan atas pujian yang dia lontarkan. Terkadang ia mendapat sebuah mention yang berisi “Pilar, kapan tampil di TV lagi?”. Ntah lah, hatinya seakan teriris-iris membaca mention itu. Dia hanya bisa menjawab “Doakan saja”. Dia bersyukur masih ada yang mengingatnya. Terkadang dia selalu bertanya apakah penggemarnya yang dulu fanatic masih ada? Apakah SPIN yang seantusias dulu masih ada?
Tapi dia sadar, mempertahankan popularitas itu tidak gampang. Tidak mudah untuk terus dikenang oleh para penggemar. Apalagi dia dikenal diusia 12 tahun yang masih tergolong anak-anak. Yang kebanyakan penggemarnya adalah anak seusianya, yang masih polos dan fanatic. Pilar sadar penggemarnya itu telah tumbuh menjadi remaja dan dewasa seperti dia sekarang ini, yang telah memiliki prinsip hidup. Yang tentu saja pergaulan mereka ikut berubah sesuai zaman. Yang selalu tertarik dengan sesuatu yang baru, sehingga meninggalkan yang lama walaupun mereka dulu sangatlah fanatic dengan yang lama itu. Setelah berapa lama, diapun tertidur dan album itu dia peluk didadanya.
Suasana Bandara Internasional Minangkabau sudah ramai sejak dini hari tadi. Itu karena hari ini hari ke 2 libur akhir tahun. Pilar dan keluarga pergi ke Jakarta bukan hanya sekedar liburan, namun juga menetap dan tinggal disana. Setelah mengganti airplane mode handphonenya, Pilar mengikuti Bundanya memasuki pesawat.
“Alan!”, terdengar seseorang memanggil Pilar. Ya, dia sering dipanggil dengan nama itu. Pilar menoleh, mencari sosok yang memanggilnya. Terlihat seorang wanita dan seorang laki-laki berajalan kearahnya. Pilar kegirangan melihat 2 orang itu. Kemudian ia berlari dan memeluk mereka.
“Aku kangen kalian kak”, kata Alan melepas pelukan itu.
“Kita juga kangen kamu lan” kata Rere dan Aldi.
“Bunda sama Fadil mana?” Tanya Aldi yang menyadari dua orang yang seharusnya bersama Pilar tidak terlihat batang hidungnya.
“Bunda sama Fadhil ambil barang kak”
“Lan, kamu urus kamar kamu aja dulu. Yang lainnya ntar banyak yang bantu kok”, Pilar hanya menurut dengan apa kata Bundanya itu.
“Kak Aldi bantu ya Lan?”, tanpa persetujuan Pilar, Aldi langsung mengangkat barang-barang ke kamar Pilar. Sebuah Figura jatuh dari kotak yang ia angkat. Pilar sibuk dengan baju-bajunya disudut kamar. Aldi diam melihat foto di figura itu. Dia ingin mengatakan sesuatu, ntah apa. Tapi dia hanya diam.
Masa liburan telah usai, hari ini Pilar memasuki sekolah barunya. Entah mengapa rasanya dia ingin cepat-cepat melihat sekolah yang akan di tempatinya untuk menamatkan status pelajar yang tinggal 1.5 tahun lagi. Ya, sekarang dia kelas 2 SMA. Pilar diantar kepala sekolah kekelas yang nantinya akan dia tempati.
Deg. Jantungnya seakan berhenti sementara ketika ia melihat seorang gadis duduk di meja paling depan. Dia sangat mengenal gadis itu. Itu gadis kecilnya yang sudah lama tak bertemu.
“Nama saya Pilar Muhammad Iqbal. Saya pindahan dari SMAN 1 Padang. Terima Kasih”, Pilar tersenyum kepada gadis kecilnya itu. Tapi ada yang aneh. Gadis kecilnya itu tidak membalas senyumnya. Bahkan tidak memperlihatkan expresi bahwa ia mengenal Pilar. Ia kemudian dipersilahkan duduk dibelakang gadisnya itu.
“Eh, lo Pilar ex- LA Akademia Junior itu kan?”, pertanyaan itu sudah ratusan kali ia dapatkan disekolah itu. Dia hanya tersenyum dan mengangguk menjawabnya. Masih banyak yang kenal aku? PIKIRNYA. Suasana istirahat disekolah itu sangat heboh ketika satu sekolah tau bahwa ada artis disekolahnya. Sebenarnya bukan hanya dia saja artis disekolah itu. Gadis kecilnya…
“Lo masih kenal si Shak kan Pilar?, kok kayaknya tadi lo ga nyapa dia ya? Oh iya, dia itu ga pernah ngaku kalo dia itu ex-LA Academia. Mungkin dia malu kali ya karena ga pernah nongol di TV lagi”, perkataan perempuan manis didepannya itu membuatnya diam. Masa Shak ga ngaku kalau dia alumni LACA?
Hari ini Pilar menemui kakak angkatnya, Kak Karina. Ia mengetok pintu, dan ia kaget dengan orang yang membuka kan pintu untuknya.
“Lo pilar anak baru itu ya? Lo ngapain ke rumah gue? Perasaan gue ga pernah ngasih alamat rumah gue ke lo. Dan gue juga ga pernah ngomong sama lo kan kalo disekolah”, Pilar menatap dalam mata gadis kecilnya itu. Yang membukakan pintu untuknya dan yang sekarang berada tepat di hadapannya. Mendengar suara ribut, seorang wanita berusia kira-kira20-21 tahun muncul dari dalam rumah.
“Ada apa sih Shak? Kok ribut banget?”, Pilar tersenyum mendengar suara itu. Suara yang dulu selalu menasehatinya agar tetap menjadi anak yang sholeh, dan tidak sombong.
“Loh, Pilar? Kamu kapan ke Jakarta dek? Kamu dtg sama siapa? Ayo masuk, kakak kangen sama kamu”, Shak hanya diam dan bertambah bingung. Kok kak Karina kenal Pilar? Tanya Shak dalam hati.
“Dia saudara kakak dari Padang Shak”,Kata Kak Karina Seolah tau apa yg dipikirkan Shak. Shak mengingat-ingat bahwa selama ini kak Karina tidak pernah memberitahunya bahwa dia punya saudara di Padang. Tiba-tiba Shak merasa kepalanya sangat sakit. Karina yang melihat Shak memegang kepalanya langsung membawa Shak kekamarnya.
Karina kembali menemui Pilar diruang tamu. Ia mendapati wajah Pilar yang penuh tanda Tanya.
“kak..” belum sempat menyelesaikan perkataannya. Kak Karina langsung mengatakan inti dari sikap Shak yg tidak mengenal Pilar.
“Shak amnesia lan”, bagai di sambar gledek Pilar terkejut setengah mati.
“Kamu masih ingat MnG pertama dan terakhir kamu bareng Shak? Dia kecelakaan waktu perjalanan pulang ke Bandung. Posisi dia disamping supir. Kepalanya terbentur keras. Dia dilarikan kerumah sakit, dan dokter mengatakan bahwa kondisi kepalanya sangat parah. Bisa diatasi, tapi satu kenyataan yang harus diterima. Dia Amnesia.”
“Tapi kenapa gak ada yang ngasih tau aku?”, Pilar meneteskan air matanya.
“Maaf lan, Mama Shak ga mau semua orang tau masalah ini. Kakak ga tau alasannya kenapa. Bukan kamu aja yg ga tau. Kakak awalnya ga tau, tapi karena Shak minta tinggal di Jakarta mereka akhirnya memberi tau kakak dan Shak tinggal disini sama keluarga kakak. Shak ga mau tinggal di Bandung, dia bilang dia ingat sesuatu kejadian di Jakarta dan tepatnya di rumah ini. Dia ga tau itu kejadian apa. Setiap berusaha untuk mengingat, kepalanya terasa sakit. Kakak mohon sama kamu lan, kamu jangan terlalu memaksakan Shak untuk mengingat semuanya ya?”
Shak sangat terpukul ketika mengetahui semuanya. Ia kasihan pada Shak. Ia ingin ingatan Shak kembali. Tapi bagaimana caranya ia tak tau. Sejak kedatangan Pilar hari itu, Pilar sering datang ke rumah kak Karina. Dan semakin lama dia dan Shak semakin akrab. Walaupun Shak tidak mengingatnya sama sekali, tapi sikap Shak padanya tidak pernah berubah. Dia masih blak-blakan seperti dulu. Selalu bercerita panjang lebar tak peduli pilar mau mendengarkan atau tidak. Tapi untuk kali ini pilar selalu mendengarkan curhatan panjang lebar gadis itu.
“Lo tau gak lan? Di twitter bnyak bnget tuh yg ngaku-ngaku jadi Fans gue. Emang dia kira gue artis apa ya? Pake acara bikin Fans Club lagi. Apa ya itu nama nya AVESHA gitu deh kalo ga salah”, Pilar tersenyum melihat ekspresi jutek Shak yang kesal dengan fans di twitternya.
“Pilar..”
“Iya.. “ Pilar tersenyum manis ketika Shak memanggil namanya dengan sangat lembut.
“Kok gue ngerasa kenal sama lo sebelumnya ya?”, deg! Pilar spontan melihat ke arah Shak. Pilar tak menjawab. Dia hanya tersenyum.
“Kamu mau minum apa? Coklat dingin mau gak? Kamu suka coklat dinginkan? Aku ambilin dulu ya.”
“tunggu..”, Pilar menghentikan langkahnya.
“Kamu tau dari mana kalo aku suka coklat dingin?”, ups* Pilar keceplosan. Dengan segera otaknya berputar-putar mencari sebuah jawaban yang tepat agar Shak tidak mencurigainya.
“Aku tau dari Kak Karina..iya dari karina” jawab Pilar gugup. Shak hanya mengangguk, lalu pilar berjalan cepat ke dapur.
Pilar muncul membawa dua gelas coklat dingin. Shak mengambil segelas coklat itu dan langsung memnghabiskan setengah gelas.
“Bosen nih, kita keruang karaoke yuk lan. Aku dengar dari kak Karina suara kamu bagus.”, Pilar menyetujuinya dan langsung mengikuti Shak ke ruang karaoke. Tidak banyak yang berubah di ruangan ini sejak 5 tahun yang lalu.
“Sejak kapan diruangan ini ada lemari?”, Pilar memperhatikan lemari yang menurutnya tidak pantas ada di ruang karaoke.
“Iya nih, ini lemarinya kak karina. Katanya ga boleh dibuka. Aku penasaran bgt sama isinya, tapi kak Karina ga pernah ngasih tau isi lemari itu apa. Lihat aja, kalau aku dpt kuncinya langsung aku bongkar tuh lemari’, kata Shak kesal.
“Sabar neng sabar, kesini buat nyanyi apa marah2 sih”, Shak tertawa kecil dengan cara Pilar menenangkan hatinya.
Shak dan Pilar pun bernyanyi diruangan itu. Kemudian, Pilar izin sebentar ke kamar kecil. Shak masih tetap melanjutkan nyanyinya. Ketika Pilar keluar dari kamar kecil. Ia mendapati Shak pingsan di Sofa. Ia memanggil Karina kemudian mereka membawa Shak kekamarnya.
“Mungkin kenangan kamu dulu sama Shak diruangan itu sepintas lewat di otaknya. Mungkin tadi dia mencoba mengingat-ingat itu. Tapi kakak gataudeh itu bener apa nggak”
Keesokan harinya Shak tidak masuk sekolah. Pilar yang merasa khawatir dengan kondisi Shak langsung menuju rumah kak Karina setelah pulang sekolah.
“Ngapai kamu kesini?”, Shak muncul dibalik pintu.
“Kok kmu nanya nya gitu sih?”, Pilar bingung dengan perubahan sikap Shak.
“kamu itu jahat! Jahat banget. Kenapa kamu ga pernah ngaku kalau kita udah kenal dari dulu? Aku tau kalo kamu itu udh tau aku ini amnesia. Kenapa sih kamu nyembunyiin semuanya dari aku? Kenapa gak ada satu orangpun bisa ceritain semuanya sama aku? Kenapa?” Shak meneteskan air matanya. Ia menutup pintu dengan keras.
“Shak buka pintunya Shak”, teriak Pilar dari luar.
“Aku benci sama kamu Pilar! Aku benci. Kamu tau? Aku selalu berharap ada seseorang yang mau membantuku untuk mengembalikan ingatanku tanpa menyembunyikan apapu dariku. Kenapa kamu sama kayak Mama, Papa sama kak Karina? Kenapa!!” Terdengar isakan Shak dari balik pintu.
“kamu ngomong apa sih Shak?”, Pilar masih tidak mengerti dengan maksud Shak.
“Kamu lihat camroll 127 di Iphone kamu. Kamu masih pura-pura bego hah?”. Seperti robot yang diberi perintah Pilar langsung mengecek camroll 127 yang dimaksud Shak. Dia kaget, dan baru mengerti apa yang di bicarakan Shak dari tadi.
“kamu udh liat? Kenapa kamu ga pernah bilang kalau kita pernah saling kenal? Foto itu jelas aku liat di Hp kamu. Kenapa sih pilar kamu ga certain ke aku?”
“Shak, aku punya alasan kenapa aku ga mau certain semuanya ke kamu. Aku ga mau kepala kamu tambah sakit Shak.”, Pilar masih berusaha mengetok-ngetk pintu berharap Shak mau kembali membuka kan pintu untuknya. Shak diam, hanya terdengar suara isakan.
“aku tau kamu masih dibalik pintu ini Shak. Oke! Aku tau aku salah. Tapi percuma aja Shak kalau dari kemarin aku bilang kita saling kenal dari dulu. Toh kamu juga bakal anggap omongan aku kayak angin lewat. Sama kayak Fans-Fans kamu yang ikut kamu lupain. Kamu tau, Avesha itu emang nama penggemar kamu Shak”. Shak terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Pilar ada benarnya juga. Tapi bukan itu yang membuat dia benar2 terdiam. Dia dengan cepat membuka kan pintu.
“jadi aku beneran artis?” Shak bertanya dengan raut wajah yang benar2 memperlihatkan bahwa dia sangat penasaran. Pilar tersenyum dan mengangguk.
“oke. Kamu dimaafin untuk saat ini. Tapi janji sama aku kalau kamu akan certain semuanya ke aku. Tanpa ada yang kamu sembunyiin dari aku. Janji?”
“Iya aku janji”, Jawab Pilar semangat.
Semenjak hari itu Pilar membantu Shak untuk mengembalikan ingatannya. Ia banyak cerita tentang banyak hal yang dulu Shak lakukan. Tapi tetap saja itu belum cukup untuk mengembalikan ingatan Shak dengan mudah.
“Trus kalo ruang karaoke itu gimana lan? Kok aku ngerasa aku pernah berada dalam ruangan itu bareng kamu?”
“Itu tempat kita latihan untuk MnG Shaklar yang pertama kalinya di Jakarta”, jawab pilar
“Shaklar? Shakira Pilar?”, Tanya Shak lagi. Pilar mengangguk mengiyakan.
“Kok kita kayak couple gitu sih? pantesan aja ya banyak bgt yang nanyain kabar uda ke aku. Uda itu kamu kan?” lagi-lagi Pilar mengangguk untuk mengiyakan. Shak sudah mulai mengingat walaupun hanya sedikit dan butuh waktu yang lama.
Hari ini Pilar tidak bisa datang ke rumah kak karina. Shak merasa kesepian. Kemudian ia memasuki ruang Karaoke. 20 menit yang lalu ruangan itu dipakai Kak Karina untuk membongkar lemarinya itu. Ia selalu mengunci ruangan itu ketika ingin membuka lemari. Entah apa yang ada didalamnya sehingga ia tak ingin memperlihatkan sedikitpun kepada Shak. “Lemari ini isinya barang berharga, ntar kamunya minta. Jadi, mendingan ga kakak kasih lihat” itu jawaban Kak Karina setiap di tanyai isi lemarinya itu.
Shak tidur di Sofa ruangan itu, ada sesuatu yg menyentuh kakinya. “Kok ada kunci sih disini? Ini kunci apa?”. Shak mengambil kunci itu, dilihatnya kearah lemari. Muncul ide dibenaknya. Dia berlari kearah pintu dan mengunci pintu itu dari dalam. Kemudian ia mendekat ke lemari. Ia deg-deg an seprti maling yang siap membawa semua harta benda didalam lemari itu jika lemari itu benar-benar berisi barang yang berharga. Ia tak sabar melihat isi lemari itu yg sudah 4 tahun disembunyikan darinya. Perlahan dibukanya lemari itu. Tak disangka, isi lemari itu membuat otaknya terasa berputar-putar. Terlalu banyak ingatan yang berlomba-lomba memasuki memorinya. Tak lama kemudian, Kak Karina membuka pintu secara paksa karena Shak tidak menyahut setelah dipanggil beberapa kali. Ditemukannya Shak pingsan tak sadarkan diri. Biasanya Shak hanya pingsan 1-2 jam. Tapi kali ini dia tak sadrkan diri lebih dari 10 jam.
Kak Karina menghubungi Mama dan Papa Shak dan juga Pilar. Tentu saja yang pertama kali tiba adalah Pilar, karena ortu Shak berada di Bandung dan akan tiba 3 jam lagi. Kak Karina dan Pilar membawa Shak kerumah sakit tempat biasa Shak diperiksa.
“Keluarganya Shak mana?”, Tanya Dokter yang baru keluar dari ruangan Shak dibaringkan.
“Saya kakaknya Dok, orang tuanya tiba 2 jam lagi. Bagaimana dengan kondisi adik saya dok?”, Kata Kak karina yang sangat cemas karena ia merasa ini salahnya. Tak seharusnya dia lupa membawa kunci lemari itu, tak seharusnya kunci itu tinggal di ruang Karaoke sehingga Shak dengan mudah membuka lemari itu dan melihat semua isinya. Yang tak lain adalah semua barang-barang Shak ketika berusia 12 tahun. Foto Album bersama Pilar, kakak-kakak SPIN dan AVESHA beserta teman-temannya di LA academia junior dulu. Termasuk sebuah snapback yang bertuliskan “SHAKLAR”.
“Kondisi fisiknya baik2 saja. Sepertinya dia memaksakan otaknya untuk mengingat sesuatu yang besar. Ntah apa itu saya tidak tau. Yang pasti ada dua kemungkinan ketika dia sadar nanti. Dia akan ingat semuanya atau otaknya lumpuh total. Dan dia akan kembali tidak mengingat siapapun”,
Kak Karina menangis histeris, ia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak hati-hati dan sangat ceroboh.
“Udah lah kak, itu bukan salah kakak. Mungkin ini udh takdir dari Allah kak”, Pilar berusaha menenangkan kak Karina walaupun dia juga ikut shock mendengar penjelasan dari dokter tadi.
Semuanya sudah berkumpul diruangan tempat Shak dirawat. Ada Mama dan papa Shak, Pilar,kak karina,Kak Rere, Kak Aldi, Bunda Pilar dan banyak lagi. Semuanya menangis kecuali Pilar. Entah mengapa ia sangat percaya bahwa gadis kecilnya itu akan baik-baik saja. Tiba-tiba jari tangan kanan Shak bergerak, semuanya mendekati Shak. Menunggu kedua mata Shak terbuka, dan tentu saja tak lama kemudian Shak sudah melihat wajah mereka satu persatu. Semua yang diruangan itu menatap Shak penuh harap, menanti kalimat pertama yang diucapkan Shak.
“Aku ada dimana?”, itu kalimat pertama yang diucapkan Shak. Mama Shak menangis histeris karena kalimat itu sama dengan kalimat yang pertama ia ucapkan 4 tahun yg lalu setelah tersadar dari koma yang cukup lama.
Shak melihat kea rah Mamanya. “Ma… Shak ingat semuanya”
Suasana yang tadinya tegang berubah haru bahagia. Meraka berpelukan satu sama lain. Tak menyangka semuanya sudah berakhir. Shak sudah kembali mengingat siapa dirinya dan siapa orang-orang disekitarnya.
“Alan.. Makasih udh bantu aku mengingat semuanya”, Pilar mengangguk. semua menoleh kearah Pilar. Merasa ada yg aneh dengan tatapan mereka Pilar pun menjelaskan semuanya, tentang Shak yang menemukan foto mereka berdua di Camroll iphone Pilar. Hingga akhirnya mereka sempat bertengkar, namun tak lama kembali rujuk dan pilar berjanji akan membantu Shak mengembalikan ingatannya.
“Aku marah banget sama kamu Karina”, Kak Karina spontan menoleh kearah Shak. Ia tau dimana letak salahnya. Tentu saja lemari itu. “Maafin kakak Shak”, Kak Karina seolah sudah terima jika Shak akan membencinya.
“Tapi sayangnya aku ga bisa benci sama kakak, tanpa lemari yang selalu kakak rahasiain dari aku apa isinya. Aku ga mungkin bisa penasaran dan senekat itu membuka lemari itu tanpa izin kakak. Trnyata ingatan aku yang hilang nyangkutnya di lemari itu. Makasih ya Kak”, Kak Karina memeluk Shak dengan kasih sayangnya. Air mata bahagia terus mengalir dipipinya. Hari itu benar-benar menjadi hari paling bahagia dihidup Shak.
Waktu semakin cepat berlalu. Entah bagaimana awalnya, Shak dan Pilar tiba-tiba muncul dan mengatakan bahwa mereka sudah resmi pacaran. Tentu saja kedua orang tua mereka menyetujuinya. Tak diragukan lagi perasaan dua sejoli itu. Mereka bisa saling menjaga. Kebahagiaan mereka bertambah ketika segerombolan orang memenuhi halaman rumah Kak Karina dan membawa spanduk yang bertuliskan “SPIN dan AVESHA masih ADA” “SHAKLAR coming back”.
Drama Tuhan memang maha Dahsyat, tidak ada yang tau apa yang terjadi dihari esok. Shak dan Pilar sudah melewati masa dimana mereka sama-sama diuji dengan kepedulian mereka. Dan kini, mereka menuai hasil kesabaran yang tlah mereka tanam selama ini. Terima kasih tuhan, ini kebahagiaan terindah dalam hidupku. Ucap Pilar diselaa-sela doanya.
TAMAT
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar